Pengukuran dan Koreksi Visus

Kelainan pembiasan, Pengertian Visus atau Ketajaman Penglihatan

Visus atau ketajaman penglihatan adalah kemampuan mata untuk melihat dengan jelas dan tegas. Secara fisiologis ditentukan oleh daya pemisahan ( minimum separable ) dari mata.

Mata normal dapat melihat secara jelas dan tegas dua garis atau titik sebagai 2 garis atau titik dengan sudut penglihatan ( angulus visualis ) 1 menit.

Secara praktis sangat sulit untuk mengatur sudut penglihatan suatu mata. Tahun 1876 Van Snellen menciptakan cara sederhana untuk membandingkan visus seseorang dengan visus orang normal, berdasarkan sudut penglihatan 1 menit. Huruf-huruf pada optotype Snellen bisa terbaca pada sudut visualis 5 menit.

Kelainan pembiasan adalah suatu keadaan dimana pada mata yang melihat jauh tak terhingga, sehingga berkas cahaya masuk ke mata sejajar, dibiaskan tidak tepat jatuh di retina. Sehingga tidak dapat melihat secara jelas.

Hal ini dapat disebabkan oleh karena indeks bias sistem lensa mata atau sumbu mata dari sistem lensa mata.

Rumus : Perhitungan visus adalah : V=d/D

V = Visus
d = Jarak optotype dengan probandus dimana probandus dapat melihat jelas.
D = Jarak seharusnya orang normal dapat membaca jelas (angka tertera di samping deretan huruf optotype)

Kemungkinan hasilnya adalah sebagai berikut :
a. V = 6/6, bila V > 6/6 maka probandus tersebut kemungkinannya adalah :
Emetrop (mata normal)
Hypermetropi fakultatif à sinar jatuh di belakang retina

Untuk membedakannya apakah probandus emetrop atau hypermetropi fakultatif diberi lensa sferis atau lensa koreksi S (+) 0,50.

Bila setelah diberi lensa S (+) 0,50 mata malah menjadi kabur atau visus kurang dari 6/6 (misal 6/10), maka kesimpulannya probandus EMETROP. 

Bila setelah ditambah lensa S(+) 0,5 D mata tambah nyaman melihat atau visus tetap 6/6 maka probandus adalah hypermetrop fakultatif

b. Bila V = lebih kecil dari 6/6, maka kemungkinannya probandus adalah :
Miopi
Hypermetrop absolut
Astigmatisme

Cara membedakannya adalah :
Diberi lensa S(+) dari yang berukuran kecil yaitu S(+) 0,5 D. Bila visus bertambah baik, huruf-huruf bertambah jelas maka mata probandus hypermetrop absolut.

Kemudian lensa S(+) ditambah makin lama makin besar sehingga mencapai V = 6/6.

Lensa S(+) terbesar dimana V = 6/6 merupakan derajat hypermetropinya dan merupakan lensa untuk koreksinya.
Bila diberi lensa S(+) visus tambah kabur/menurun, maka cobalah dengan lensa S(-) terkecil S(-) 0,5 D. Bila visus tambah baik berarti probandus miopi. Tambahlah lensa S(-) makin besar sehingga V = 6/6

Bila dengan lensa S(+) maupun S(-) probandus visusnya tetap tidak membaik, maka kemungkinannya probandus tersebut adalah astigmatisma. Maka cobalah dengan astigmatisma dial test.

Contoh : OD (OculiDexter) dengan S(-) 2 D --- V = 6/6 tetapi dengan S (-) 2,5 D ---V tetap 6/6 maka ambilah lensa S (-) 2,5 D akan terjadi hiperkoreksi.

Perbedaan antara Hypermetropi fakultatif dengan Hypermetropi absolut adalah pada Hypermetropi fakultatif, bayangan sebenarnya jatuh dibelakang retina saat lensa tidak berakomodasi, namun lensa penderita masih mampu berakomodasi sehingga seolah-olah pandangannya normal.

Sedangkan pada Hypermetropi absolut, bayangan jatuh dibelakang retina saat lensa tidak berakomodasi dan lensa penderita sudah tidak mampu berakomodasi sama sekali.
Hiperkoreksi adalah koreksi yang berlebih-lebihan dimana dengan lensa S(-) tertentu seorang miopi bayangan jatuh di belakang retina, tetapi dengan daya akomodasinya visus tetap 6/6.


AYO BERAMAL GABUNG FOLLOWER

Popular Posts